Rabu, 13 November 2013




SEJARAH GEREJA DI INDONESIA SEJAK THN.1930-KINI

Makalah Paper
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Akademis
Guna Mencapai Kelulusan Mata Kuliah Sejarah  Gereja Indonesia





                                               
Oleh:
MARLINA
NIM: 10-562



SEKOLAH TINGGI TEOLOGI IKSM SANTOSA ASIH
JAKARTA
2013



DAFTAR ISI
BAB I                         PENDAHULUAN
BAB II            PEMBAHASAN
A.    Gereja dan Pergerakan Nasionalisme (1930-1941)
B.     Gereja di Masa Pendudukan Jepang (1942-1945)
C.     Gereja di masa perang  Kemerdekaan RI ( 1945-1950)
D.    Gereja yang bertumbuh/ tinggal landas ( 1950-kini)
BAB III          PENUTUP
A.    Kesimpulan
B.     Saran
DAFTAR PUSTAKA








  


SEJARAH GEREJA DI INDONESIA SEJAK THN.1930-KINI

Makalah Paper
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Akademis
Guna Mencapai Kelulusan Mata Kuliah Sejarah  Gereja Indonesia





                                               
Oleh:
MARLINA
NIM: 10-562



SEKOLAH TINGGI TEOLOGI IKSM SANTOSA ASIH
JAKARTA
2013



DAFTAR ISI
BAB I                         PENDAHULUAN
BAB II            PEMBAHASAN
A.    Gereja dan Pergerakan Nasionalisme (1930-1941)
B.     Gereja di Masa Pendudukan Jepang (1942-1945)
C.     Gereja di masa perang  Kemerdekaan RI ( 1945-1950)
D.    Gereja yang bertumbuh/ tinggal landas ( 1950-kini)
BAB III          PENUTUP
A.    Kesimpulan
B.     Saran

DAFTAR PUSTAKA



BAB I
PENDAHULUAN
            Di Indonesia memiliki sejarah tentang Gereja mulai dari pergerakan nasionalisme yang melepaskan diri dari jajahan. Gereja pada masa ini memiliki semangat untuk membentuk suatu gereja dan memiliki semangat juang. Dan orang-orang Kristen yang ikut dalam pergerakan kebangsaan sering mendapat teguran dari para misionaris bahkan ada juga yang dikucilkan dari gereja. Hal ini menimbulkan ketegangan dan pertentangan didalam gereja, akibatnya gereja mengalami perpecahan, seperti yang pernah dialami oleh HKBP pada masa pergerakan kebangsaan. Orang-orang Kristen Batak yang tidak senang dengan sikap misionaris tersebut lalu memisahkan diri dari HKBP
BAB II
PEMBAHASAN
SEJARAH GEREJA DI INDONESIA SEJAK Thn. 1930-Kini
A.    Gereja dan Pergerakan Nasionalisme (1930-1941)
Kekristenan dan Nasionalisme: Zakharia Ngelow Theodoran Muller Kruger, 70 thn memperingati Usia Prof. Dr. Th. Muller Kruger. Menurut Fridolin ukur, munculnya gerakan Nasionalisme atau keinginan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari jajahan turut mempengaruhi Gereja atau orang-orang Kristen di Indonesia dalam dua hal:
Pertama, semangat nasionalisme menyebabkan orang-orang Kristen (jemaat-jeamaat) untuk bersatu dan membentuk suatu gereja yang berdiri sendiri. Semangat yang dikobarkan untuk membebaskan diri dari penjajahan serta mengatur diri sendiri ikut pula menunjang cita-cita kearah otonomi gereja, yang bebas dari dominasi para misionaris (M.A. Ihromi, penyuting, 1979,71).
Usaha kearah pembentukan gereja yang berdiri sendiri tidak selalu berjalan lancar, karena dari pihak zending umumnya berpendapat bahwa jemaat-jemaat di Indonesia belum cukup dewasa untuk memikul tanggung jawab sendiri. Tetapi dari pihak jemaat-jemaat atau Gereja-gereja di Indonesia menyatakan justru demi mempercepat proses pendewasaan dan kedewasaan ini maka perlu gereja-gereja di Indonesia diberi kesempatan dan kemungkinan untuk mengatur diri sendiri, bersaksi9 dan melayani sendiri. Maka mulai tahun 1930 dan selanjutnya, gereja-gereja di Indonesia menyatakan dirinya sebagai gereja yang berdiri sendiri, seperti: HKBP (1930), GKJ dan GKJW (1931), GKP, GKI Jatim, GMIM (1934), GKE, GPM, GKKB (1935), BNKP (1936), GBKP dan GKPB (1941). Tetapi adapula gereja yang berdiri sendiri sebelum tahun 1930, yaitu Gereja Gerekan Pentakosta (1924), Gereja Kristen Muria Indonesia (1926), Panguan Kristen Batak dan Huria Kristen Indonesia (1927) (ihromi, editor, 1979:71) usaha kemandirian tersebut di atas yang dimulai tahun 1930-1941 mengalami masalah dalam bidang tenaga pelayanan dan kepemimpinan. Hal ini disebabkan karena pada masa zending pembinaan tenaga pribumi kurang diperhatikan, sehingga pada waktu gereja berdiri sendiri masih juga bergantun pada kepemimpinan para misonaris. Oleh karena itu dimulailah pusat-pusat pendidikan para pelayan, baik oleh gereja secara sendiri-sendiri maupun secara bersama. Dan salah satu usaha bersama gereja Indonesia untuk pendidikan bagi tenaga pelayanan tersebut ialah didirikanh Sekolah Tinggi Theologi (Hogere Theologische school) di Jakarta tahun 1934, sekarang Sekolah Tinggi Theologi Jakarta yang bertempat di Proklamasi. (ibid, Hal. 72).
Kedua, semangat nasionalisme juga mempengaruhi jemaat-jemaat Kristen di Indonesia untuk ikut dalam perjuangan kemerdekaan atau membebaskan diiri dari kolonialisme Belanda, atau sebagaimana yang dinyatakan oleh Fridolin Ukur: “Sewaktu dimulainya gerakan kebangsaan itu banyak diantara orang Kristen yang ikut aktif” didalam perjuangan tersebut. Orang –orang Kristen yang ikut dalam pergerakan kebangsaan sering mendapat teguran dari para misionaris bahkan ada juga yang dikucilkan dari gereja. Hal ini menimbulkan ketegangan dan pertentangan didalam gereja, akibatnya gereja mengalami perpecahan, seperti yang pernah dialami oleh HKBP pada masa pergerakan kebangsaan. Orang-orang Kristen Batak yang tidak senang dengan sikap misionaris tersebut lalu memisahkan diri dari HKBP, yaitu: HKI (1927).
B.     Gereja di Masa Pendudukan Jepang (1942-1945)
Pada waktu terjadi perang dunia ke-2, Jerman mengadakan invasi ke Belanda maka terjadi pula perubahan yang hebat di Indonesia. Pihak Belanda menahan semua orang asing warga negara Jerman termasuk para misionaris Jerman di tahan. Akibatnya gereja-gereja di Indonesia yang mempergunakan tenaga-tenaga misionaris Jerman dan Swis mulai mengalami pukulan pertama. Gereja-gereja yang mempergunakan para misionaris Jerman dan Swis adalah gereja-gereja di Sumatera Utara dan Kalimantan. Tidak lama kemudian tentara Jepang berhasil menguasai wilayah Indonesia, maka terjadilah perubahan ke-2. semua warga negara Belanda dan sekutunya (termasuk misionaris) ditawan loleh pihak Jepang. Gereja di Indonesia pada waktu itu mulai masauk dalam suasana berikutnya dibawah kekuasaan Jepang. Pemerintah Jepang mulai melarang berhubungan dengan dunia Barat (Eropa). Kecuali misiobnaris Swis dan Jerman (Jerman adalah sekutu Jepang waktu itu). Misionaris dari Swis dan Jerman diizinkan untuk sementara melayani di Indonesia, tetapi kemudian diangkut oleh Jepang untuk dikembalikan ke tanah air mereka. Namun banyak juga misionaris yang dibunuh oleh tentara Jepang karena dengan tuduhan bersekutu dengan Belanda dan ikut dalam kegiatan mata-mata Belanda.
Sebelum Jepang menguasai  Indonesia ada Gereja-gereja yang telah berdiri sendiri, namun ada pula  Gereja/kebanyakan  gereja  yang masih bergantung  pada bantuan misionaris. Sehingga waktu Jepang  berkuasa diIndonesia maka gereja yang masih bergantung padabantuan Zending atau misionaris mengalami kesulitan.  Dalam keadaan ini Gereja dipaksa untuk memikul seluruh  tanggung jawab termasuk tanggung jawab pembiayaan. Bila sebelumnya para pelayan Gereja mendapat  gaji dari khas sentral  yang dibantu oleh pihak Zending, maka didalam proses periode ini hal ini  tersebut tidak dilaksanakan.  Melalui tiap-tiap jemaat yang mengusahakan keuangannya sendiri dan membiayai  para pelayan tanpa bantuan dari luar, yaitu dari para misionari Eropa. Dalam situasi ini, pada suatu sisi gereja menghadapi keprihatinan tetapi pada sisi lain  pereistiwa ini telah membantu gereja untuk  bertumbuh secara dewasa.  Dalam situasi ini nyatalah bahwa Yesus Kristus Raja gereja tetap memerintah Gereja-Nya.
Selain kondisi diatas, pemerintah Jepang juga menyita harta memiliki gereja  dan dijadikan menjadi miliki  Negara. Harta milik Gereja seperti : sekolah-sekolah, rumah sakit, bahkan gedung gerejapun ada yang disita, ini disebabkan karena pada waktu itu sebagaian besar harta miliki gereja itu  belum sempat dialihkan ke status hukum untuk menjadi miliki Gereja,  sehingga berdasarkan  surat-surat resmi harta miliki Gereja masih atas nama badan zending. Kenyataan tersebut menjadi  alasan pihak  Jepang menyitanya,  karena dianggap milik asing. Peristiwa  ini juga menjadi pelajaran Sejarah bagi kita.  Setelah Jepang kalah, maka semua gedung gereja yang disita oleh Jepang  berlangsung diambil Alih  oleh pemerintah Republik Indonesia, namun  proses pengembalian kepada gereja oleh pemerintahpun mengalami waktu  yang panjang,  malah sampai dengan sekarang ini masih  ada gedung-gedung sekolah ataupun rumah-rumah sakit sakit yang belum dapat dikembalikan kepada gereja (Ibid,hlm.76). tekanan lain yang pernah  dilakukan Jepang kepada Gereja waktu itu adalah larangan beribadah, hal ini dapat diatasi setelah datangnya pendeta-pendeta dari gereja Kristen Jepang ( Keyodan). Misalnya dijawa Barat, berkat campur tangan pendeta tentara,kolonel Nomachi, Gereja mendapat surat dari pemerintah sehingga memungkinkan Gereja Kristen Pasundan ( GKP) dapat bergerak lagi tanpa ganguan dari pihak masyarakat maupun dari pihak pemerintah Jepang. Jadi kehadiran pendeta-pendeta Gereja Kristen Jepang ( Kiyadon) banyak sekali membantu kehidupan gereja-gereja di Indonesia selama masa pendukung Jepang. Pendeta-pendeta tersebut  menjadi perantara antara gereja dengan pihak pemerintah Jepang.
Pekabaran Injil pada waktu dilarang, yang diperbolehkan adalah hanyalah ibadat hari minggu dan katekisasi bagi para pemuda Kristen. Setiap pendeta atau pejabat  gereja harus membuat laporan kekantor di masing masing propinsi tentang pekerjaan atau kemana mereka pergi . namun  gereja tetap melaksanakan  pekabaran Injil . pada masa it pekabaran Injil dilakukan oleh setiap warga gereja dan tidak bergantung kepada pejabat gereja yang sedikit banyak  dibatasiruang  gerak mereka. Disini kita juga mendapat pelajaran Sejarah  ketika pemimpin dibatsi maka warga negara terlibat dalam kegiatan misi gereja.
Pergumulan teologis yang sangat berat yang dihadapi gereja pada pendukung Jepang adalah adanya pemaksaan agar semua orang dalam  setiap upacara harus terlebih dahulu  menghadap kesebelah  Timur matahari  terbit,  lalu tunduk meyembah kaisar Jepang. Peraturan ini mau dikenakan juga dalam setiap permulaan kebaktian dirumah gereja. Dalam hal ini gereja-gereja menolak sehingga menimbulkan ketegangan. Akhirnya berkat campur tangan para pendeta Jepang peraturan tersebut tidak dikenakan dalam kebaktian-kebaktian dinegara,  tetapi dalam upacara-upacara umum hal tersebut tetap dilaksanakan. Pengalaman pahit gereja dalam  pendukung jepang membawa gereja pada kedewasaan. Gereja menjadi dewasa melalui penderitaan. Dikatakan demikian karena tantangan pada masa pendukung Jepang Justru tidakmembuat gereja hilang atau melemahkan gereja tetapi justru sebaliknya gereja menjadi  sadar akan tugas dankewajibannya yaitu lebih berani memberitakan Injil dan lebih mampu membiayai seluruh pembiyaannya yaitu lebih berani memberitakan Injil dan lebih mampu membiyai seluruh pembiyaan Gereja.
C.    Gereja di masa perang  Kemerdekaan RI ( 1945-1950)
Pengalaman dan kehidupan gereja di masa pendudukan Jepang sangat menetukan dan mempengaruhi jalannya sejarah gereja-gereja di Indonesia dalam periode sesudahnya.  Pada waktu Jepang menyerah kepada sekutu pada tanggal 14 Maret 1945 maka berakhirlah penindasan dan penjajahan Jepang atas Indonesia.
            Bersmaan dengan itu usaha dan semangat bangsa Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia dan tanah air sudah mencapai taraf kematangannya, yang berpuncak dengan Proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun datangnya tentara Sekutu yang menggantikan Jepang, kemudian disusul dengan kembalinya Belanda untuk menjajah lagi bangsa Indonesia, telah mengakibatkan bentrok fisik yang berkembang menjadi Perang Kemerdekaan.
            Dalam masa pendudukan Jepang Gereja-gereja Indonesia yang telah cukup matang dipersiapkan di masa pendudukan Jepang sepenuhnya sadar bahwa perjuangan untuk memperioleh kemerdekaan bangsa itu adalah tanggung jawab dan tugas seluruh rakyat Indonesia. Dan orang Kristen sebagai bagian integral dari bangsa ini  sepenuhnya ikut pula bertanggung jawab. Sejak semula, ketika diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia, orang Kristen sepenuhnya sudah terlibat dalam perjuangan rakyat ( Ihromi dan Wahono, 1979 :79)
D.    Gereja yang bertumbuh/ tinggal landas ( 1950-kini)
Alasan perhitungan pertumbuhan Gereja Indonesia oleh para ahli sejarah Gereja dimulai sejak tahun 1950, karena sejak tahun itu terjadilah beberapa hal berikut ini yang nanti menjadi ukuran pertumbuhan tersebut. Peristiwa-peristiwa itu, seperti:
Ø  Pembentukan Dewan Gereja-gereja di Indonesia. Dewan Gereja-gereja di Indonesia didirikan pada tanggal 25 Mei 1950, bertepatan dengan perayaan Hari Raya Pentakosta. Anggota DGI pada waktu itu berjumlah 29 denominasi, dan dalam perkembangan selanjutnya Gereja-gereja aliran Pentakosta pun menjadi anggota DGI atau sekarang PGI
Ø  Peristiwa-peristiwa yang terjadi di Indonesia. Ada peristiwa yang berdampak pada pertambahan anggota gereja tetapi ada juga peristiwa-peristiwa yang berdampak pada berkurangnya anggota Gereja.
Peristiwa-peritiwa yang dimaksud, yaitu:
Peritiwa Gerombolan DI-TII (1950-1962) beberapa Gereja di wilayah seperti Jawa Barat, Sulawesi dan Kalimantan Selatan. Peristiwa ini mempengaruhi merosotnya atau berkurangnya Gereja di wilayah-wilayah yang dikuasai DI-TII, di Toraja sekitar 70.000 orang Kristen mengalami terror gerombolan bersenjata, termasuk paksaan untuk beralih agama.
Pengembalian wilayah Irian Jaya ke wilayah kekuasaan Republik Indonesia. Peristiwa ini juga pada akhirnya memberi peluang untuk perkembangan Gereja secara besar-besaran di Irian Jaya. Karena sebelum penyerahan, usaha menuju kedewasaan Gereja di Irian Jaya oleh zending  berjalan cukup lamban tetapi ketika Irian Jaya menjadi bagian dari wilayah Indonesia maka DGI melalui bantuan gereja-gereja di Indonesia sangat berperan dengan baik sehingga gereja-gereja di Irian Jaya sangat berkembang pesat. Sekedar perbandingan, jumlah orang Kristen di Irian sebelum penyerahan ke wilayah Indonesia sebanyak 130.000 orang (thn. 1963, akan tetapi setelah Irian masuk wilayah Indonesia, jumlah orang Kristen bertambah menjadi 360.000 (statistic thn. 1974)
Peristiwa Gerakan 30 September 1965. Gagalnya usaha Komunis dan terjadinya banyak korban, singkatnya situasi sedang kritis. Dalam situasi kritis ini orang tertarik kepada Gereja karena kesaksian Gereja yang baik, sikap gereja yang tidak memihak, mengutuk dan tidak pandang bulu, usaha Gereja membela mereka yang tidak bersalah serta bantuan kasih tanpa memandang golongan dan agama. Semua hal ini mempengaruhi orang menjadi Kristen. Tetapi secara tegas dikatakan disini bahwa bila dilihat secara keseluruhan maka factor G.30 S itu bukanlah factor yang sangat menentukan pertumbuhan Gereja.
Anjuran pemerintah agar rakyat memilih agama yang diakui Pemerintah. Setelah gagalnya G.30 S, pemerintah menganjurkan kepada rakyat Indonesia agar memilih salah satu agama yang di akui Negara. Anjuran ini juga mempengaruhi orang untuk memilih agama sesuai dengan hati nuraninya. Selain itu pertumbuhan Gereja sejak Indonesia sejak tahun 1950 s.d masa kini juga harus dilihat dari perjumpaan gereja Indonesia dengan pergumulan politik, dalam pergerakan oikumenikal, dan sikap gereja di tengah masyarakat yang menganut agama lain. Ini penting disinggung karena gereja Indonesia yang bertumbuh adalah Gereja Indonesia yang akan berinteraksi dengan banyak pergumulan di Indonesia. (Ihromi, 1979 :87-91)





BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
SEJARAH GEREJA DI INDONESIA SEJAK Thn. 1930-Kini. Paham nasionalisme Ialah gereja yang memiliki semangat yang dikobarkan untuk membebaskan diri dari jajahan. Dan Gereja-gereja yang mempergunakan para misionaris Jerman dan Swis adalah gereja-gereja di Sumatera Utara dan Kalimantan. Tidak lama kemudian tentara Jepang berhasil menguasai wilayah Indonesia, maka terjadilah perubahan ke-2. Dan Bersmaan dengan itu usaha dan semangat bangsa Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia dan tanah air sudah mencapai taraf kematangannya, yang berpuncak dengan Proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun datangnya tentara Sekutu yang menggantikan Jepang, kemudian disusul dengan kembalinya Belanda untuk menjajah lagi bangsa Indonesia, telah mengakibatkan bentrok fisik yang berkembang menjadi Perang Kemerdekaan.
            Dalam masa pendudukan Jepang Gereja-gereja Indonesia yang telah cukup matang dipersiapkan di masa pendudukan Jepang sepenuhnya sadar bahwa perjuangan untuk memperioleh kemerdekaan bangsa itu adalah tanggung jawab dan tugas seluruh rakyat Indonesia. Dan orang Kristen sebagai bagian integral dari bangsa ini  sepenuhnya ikut pula bertanggung jawab. Sejak semula, ketika diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia, orang Kristen sepenuhnya sudah terlibat dalam perjuangan rakyat.
B.  Saran  
Penulis makalah ini ialah harus dapat memahami situasi dan kondisi yang ada. Dalam makalah ini penulis membahas tentang sejarah GSI 1930-kini. Dalam hal ini penulis dalam membuat makalah ini banyak kesalahan dan sangat membutuhkan saran dan dukungan serta masukan dari setiap pembacaa yang ada.











Senin, 19 November 2012

JENIS-JENIS MEDIA PEMBELAJARAN



BAHAN PRESENTASE
Nama               : Marlina
Semester          : V (Lima)
NIM                : 010-562
Dosen              : Yonas Muanley
M. Kuliah        : Media Pembelajaran
JENIS-JENIS MEDIA PEMBELAJARAN
Media Pembelajaran menjadi salah satu solusi bagi guru untuk mencapai proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang maksimal. Media Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang bersifat edukatif/mendidik, yang merangsang pikiran, perasaaan minat anak didik, sehingga proses interaksi komunikasi antara anak didik dan guru dapat berlangsung secara tepat. Inti dari Media Pembelajaran itu sendiri adalah alat bantu dalam proses KBM.[1]
Media pembelajaran banyak jenis dan macamnya. Dari yang palng sederhana dan murah hingga yang canggih dan mahal. Ada yang dapat dibuat oleh guru sendiri dan ada yang diproduksi pabrik. Ada yang sudah tersedia di lingkungan untuk langsung dimanfaatkan dan ada yang sengaja dirancang.
Berbagai sudut pandang untuk menggolongkan jenis-jenis media. Rudy Bretz (1971) menggolongkan media berdasarkan tiga unsur pokok (suara, visual dan gerak):
1.      Media audio 
2.       Media cetak
3.      Media visual diam
4.      Media visual gerak
5.      Media audio semi gerak
6.      Media visual semi gerak
7.      Media audio visual diam
8.      Media audio visual gerak
Ada beberapa jenis media pengajaran yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar, antara lain:
1.      Media Cetak: Media cetak misalnya hand out, buku, modul, brosur, liflet, majalah, koran, album. Media cetak juga ada yang ditampilkan dengan komputer yang berisi bahan ajar dan sumber lain dari internet.
2.      Media Grafis
Media grafis adalah media visual. Dalam media ini, pasan yang akan disampaikan dapat dituangkan dalam bentuk simbol. Oleh karena itu simbol-simbol yang digunakan perlu difahami benar artinya, agar dalam penyampaian materi dalam proses belajar mengajar dapat berhasil secara efektif dan efisien. Media grafis berfungsi untuk menarik perhatian, memperjelas sajian ide, mengilustrasikan atau menghiasi fakta yang mungkin akan cepat dilupakan apabila tidak digrafiskan, misalnya: pelaksanaan shalat atau tentang konsep sifat wajib, mustahil bagi Allah, dan konsep lainnya. Media grafis selain sederhana dan mudah pembuatannya, media grafis juga termasuk media yang relatif murah ditinjau dari segi biayanya. Adapun jenis-jenis media grafis, antara lain:
a.       Gambar/Foto: Media gambar adalah media yang paling umum dipakai. Gambar/Foto merupakan bahasa yang umum yang dapat dimengerti dan dinikmati di mana-mana. Sebagaimana pepatah Cina mengatakan “sebuah gambar berbicara lebih banyak daripada seribu bahasa”. Dalam penggunaan media pembelajaran ini, gambarnya harus disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai.
b.      Sketsa: Sketsa adalah gambar yang sederhana, atau draf kasar yang melukiskan bagian-bagian pokoknya tanpa detail. Karena setiap orang yang normal dapat diajar menggambar, maka setiap guru yang baik haruslah dapat menuangkan ide-idenya dalam bentuk sketsa. Sketsa, selain dapat menarik perhatian siswa, menghindari verbalisme dan dapat memperjelas penyampaian pesan, harganya pun tak perlu dipersoalkan karena media dibuat guru langsung.
c.       Diagram: Diagram adalah suatu gambar sederhana yang dirancang untuk menggambarkan hubungan timbal balik, yang menggunakan garis-garis dan simbol-simbol. Diagram biasanya menggambarkan struktur dari obyeknya secara garis besar, menunjukkan hubungan yang ada antar komponennya atau sifat-sifat proses yang ada di situ.
d.      Bagan: Bagan seperti halnya media grafis yang lain yaitu termasuk media visual. Fungsinya yang pokok adalah menyajikan ide-ide atau konsep-konsep yang sulit bila hanya disampaikan secara tertulis atau lisan secara visual. Bagan juga mampu memberikan ringkasan butir-butir penting dari suatu presentasi. Pesan yang disampaikan biasanya berupa ringkasan visual suatu proses, perkembangan atau hubungan-hubungan penting.
e.       Grafik: Grafik adalah gambar sederhana yang menggunakan titik-titik, grafis atau gambar. Untuk melengkapinya seringkali simbol-simbol verbal digunakan pula di situ. Fungsinya adalah untuk menggambarkan data secara kuantitatif dan teliti, menerangkan perkembangan atau perbandingan sesuatu objek atau peristiwa yang saling berhubungan secara singkat dan jelas.
f.       Kartun: Kartun sebagai salah satu bentuk komunikasi grafis, yaitu suatu gambar interpretatife yang digunakan simbol-simbol untuk menyampaikan sesuatu pesan secara cepat dan ringkas atau sesuatu sikap terhadap orang situasi, atau kejadian-kejadian tertentu. Kemampuannya besar sekali untuk menarik perhatian, mempengaruhi sikap atau tingkah laku. Kartun biasanya hanya menangkap esensi pesan yang harus disampaikan dan menuangkannya ke dalam gambar sederhana, tanpa detail menggunakan simbol-simbol serta karakter yang mudah dikenal dan dipahami dengan cepat.  
3.       Media Audio 
Media audio berbeda dengan media grafis, media audio berkaitan dengan indera pendengaran. Pesan yang akan disampaikan dituangkan kedalam lambang-lambang auditif, baik verbal maupun non verbal. Ada beberapa jenis media yang dapat dikelompokkan dalam media audio, antara lain:

a.       Radio: Radio adalah media audio yang programnya dapat direkam dan diputar sesuka kita. Media ini relatif murah dan variasi progamnya lebih banyak dan bisa dipindah-pindah dan dapat digunakan bersama-sama.
b.      Alat Perekam Pita Magnetic (tape recorder): Alat perekam pita magnetic atau tape recorder adalah salah satu media pembelajaran yang tidak dapat diabaikan untuk menyampaikan informasi, karena mudah menggunakannya.
c.       Laboratorium Bahasa: Laboratorium bahasa adalah alat untuk melatih siswa mendengar dan berbicara dalam bahasa asing dengan jalan menyajikan materi pelajaran yang disiapkan sebelumnya. Media ini yang dipakai adalah alat perkam. 
d.      Media Proyeksi Diam: Media proyeksi diam (still proyektif medium) mempunyai persamaan dengan media grafis dalam arti menyajikan rangsangan-rangsangan visual. Untuk itu bahan-bahan  grafis banyak sekali dipakai dalam media proyeksi diam. Perbedaan antara media grafis dan proyeksi diam, yaitu pada media grafis dapat secara langsung berinteraksi dengan pesan media bersangkutan, pada media proyeksi  diam pesan yang terkandung di dalamnya harus diproyeksikan dengan proyektor agar dapat dilihat oleh sasaran.  Dalam proyeksi diam ini semua menggunakan transparan yang kemudian diproyeksikan menggunakan proyektor.
4.      Media Visual
1.      Media yang tidak diproyeksikan
·         Media realia adalah benda nyata. Benda tersebut tidak harus dihadirkan di ruang kelas, tetapi siswa dapat melihat langsung ke obyek. Kelebihan dari media realia ini adalah dapat memberikan pengalaman nyata kepada siswa. Misal untuk mempelajari keanekaragaman makhluk hidup, klasifikasi makhluk hidup, ekosistem, dan organ tanaman.
·         Model adalah benda tiruan dalam wujud tiga dimensi yang merupakan representasi atau pengganti dari benda yang sesungguhnya. Penggunaan model untuk mengatasi kendala tertentu sebagai pengganti realia. Misal untuk mempelajari sistem gerak, pencernaan, pernafasan, peredaran darah, sistem ekskresi, dan syaraf pada hewan.
·         Media grafis tergolong media visual yang menyalurkan pesan melalui simbol-simbol visual. Fungsi dari media grafis adalah menarik perhatian, memperjelas sajian pelajaran, dan mengilustrasikan suatu fakta atau konsep yang mudah terlupakan jika hanya dilakukan melalui penjelasan verbal.
Jenis-jenis media grafis adalah:
1.      gambar / foto: paling umum digunakan
2.       sketsa: gambar sederhana atau draft kasar yang melukiskan bagian pokok tanpa detail. Dengan sketsa dapat menarik perhatian siswa, menghindarkan verbalisme, dan memperjelas pesan.
3.      diagram / skema: gambar sederhana yang menggunakan garis dan simbol untuk menggambarkan struktur dari obyek tertentu secara garis besar. Misal untuk mempelajari organisasi kehidupan dari sel samapai organisme.
4.      bagan / chart : menyajikan ide atau konsep yang sulit sehingga lebih mudah dicerna siswa. Selain itu bagan mampu memberikan ringkasan butir-butir penting dari penyajian. Dalam bagan sering dijumpai bentuk grafis lain, seperti: gambar, diagram, kartun, atau lambang verbal.
5.      grafik: gambar sederhana yang menggunakan garis, titik, simbol verbal atau bentuk tertentu yang menggambarkan data kuantitatif. Misal untuk mempelajari pertumbuhan.
2. Media proyeksi
·         Transparansi OHP merupakan alat bantu mengajar tatap muka sejati, sebab tata letak ruang kelas tetap seperti biasa, guru dapat bertatap muka dengan siswa (tanpa harus membelakangi siswa). Perangkat media transparansi meliputi perangkat lunak (Overhead transparancy / OHT) dan perangkat keras (Overhead projector / OHP).
·         Film bingkai / slide adalah film transparan yang umumnya berukuran 35 mm dan diberi bingkai 2X2 inci. Dalam satu paket berisi beberapa film bingkai yang terpisah satu sama lain. Manfaat film bingkai hampir sama dengan transparansi OHP, hanya kualitas visual yang dihasilkan lebih bagus. Sedangkan kelemahannya adalah beaya produksi dan peralatan lebih mahal serta kurang praktis. Untuk menyajikan dibutuhkan proyektor slide.



5.  Media Audio-Visual
1. Media video
Merupakan salah satu jenis media audio visual, selain film. Yang banyak dikembangkan untuk keperluan pembelajaran, biasa dikemas dalam bentuk VCD.
2.  Media computer
Media ini memiliki semua kelebihan yang dimiliki oleh media lain. Selain mampu menampilkan teks, gerak, suara dan gambar, komputer juga dapat digunakan secara interaktif, bukan hanya searah. Bahkan komputer yang disambung dengan internet dapat memberikan keleluasaan belajar menembus ruang dan waktu serta menyediakan sumber belajar yang hampir tanpa batas.[2]
Kesimpulan: