SEJARAH
GEREJA DI INDONESIA SEJAK THN.1930-KINI
Makalah
Paper
Diajukan
Untuk Memenuhi Persyaratan Akademis
Guna
Mencapai Kelulusan Mata Kuliah Sejarah
Gereja Indonesia

Oleh:
MARLINA
NIM: 10-562
SEKOLAH
TINGGI TEOLOGI IKSM SANTOSA ASIH
JAKARTA
2013
DAFTAR ISI
BAB
I PENDAHULUAN
BAB
II PEMBAHASAN
A.
Gereja
dan Pergerakan Nasionalisme (1930-1941)
B. Gereja di Masa Pendudukan
Jepang (1942-1945)
C.
Gereja di masa
perang Kemerdekaan RI ( 1945-1950)
D.
Gereja yang
bertumbuh/ tinggal landas ( 1950-kini)
BAB
III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR
PUSTAKA
SEJARAH
GEREJA DI INDONESIA SEJAK THN.1930-KINI
Makalah
Paper
Diajukan
Untuk Memenuhi Persyaratan Akademis
Guna
Mencapai Kelulusan Mata Kuliah Sejarah
Gereja Indonesia

Oleh:
MARLINA
NIM: 10-562
SEKOLAH
TINGGI TEOLOGI IKSM SANTOSA ASIH
JAKARTA
2013
DAFTAR ISI
BAB
I PENDAHULUAN
BAB
II PEMBAHASAN
A.
Gereja
dan Pergerakan Nasionalisme (1930-1941)
B. Gereja di Masa Pendudukan
Jepang (1942-1945)
C.
Gereja di masa
perang Kemerdekaan RI ( 1945-1950)
D.
Gereja yang
bertumbuh/ tinggal landas ( 1950-kini)
BAB
III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
Di Indonesia
memiliki sejarah tentang Gereja mulai dari pergerakan nasionalisme yang
melepaskan diri dari jajahan. Gereja pada masa ini memiliki semangat untuk
membentuk suatu gereja dan memiliki semangat juang. Dan orang-orang Kristen yang
ikut dalam pergerakan kebangsaan sering mendapat teguran dari para misionaris
bahkan ada juga yang dikucilkan dari gereja. Hal ini menimbulkan ketegangan dan
pertentangan didalam gereja, akibatnya gereja mengalami perpecahan, seperti
yang pernah dialami oleh HKBP pada masa pergerakan kebangsaan. Orang-orang
Kristen Batak yang tidak senang dengan sikap misionaris tersebut lalu
memisahkan diri dari HKBP
BAB
II
PEMBAHASAN
SEJARAH
GEREJA DI INDONESIA SEJAK Thn. 1930-Kini
A. Gereja
dan Pergerakan Nasionalisme (1930-1941)
Kekristenan dan
Nasionalisme: Zakharia Ngelow Theodoran
Muller Kruger, 70 thn memperingati Usia Prof. Dr. Th. Muller Kruger. Menurut
Fridolin ukur, munculnya gerakan Nasionalisme atau keinginan bangsa Indonesia
untuk melepaskan diri dari jajahan turut mempengaruhi Gereja atau orang-orang
Kristen di Indonesia dalam dua hal:
Pertama,
semangat nasionalisme menyebabkan orang-orang Kristen (jemaat-jeamaat) untuk
bersatu dan membentuk suatu gereja yang berdiri sendiri. Semangat yang
dikobarkan untuk membebaskan diri dari penjajahan serta mengatur diri sendiri
ikut pula menunjang cita-cita kearah otonomi gereja, yang bebas dari dominasi
para misionaris (M.A. Ihromi, penyuting, 1979,71).
Usaha
kearah pembentukan gereja yang berdiri sendiri tidak selalu berjalan lancar,
karena dari pihak zending umumnya berpendapat bahwa jemaat-jemaat di Indonesia
belum cukup dewasa untuk memikul tanggung jawab sendiri. Tetapi dari pihak
jemaat-jemaat atau Gereja-gereja di Indonesia menyatakan justru demi mempercepat
proses pendewasaan dan kedewasaan ini maka perlu gereja-gereja di Indonesia
diberi kesempatan dan kemungkinan untuk mengatur diri sendiri, bersaksi9 dan
melayani sendiri. Maka mulai tahun 1930 dan selanjutnya, gereja-gereja di
Indonesia menyatakan dirinya sebagai gereja yang berdiri sendiri, seperti: HKBP
(1930), GKJ dan GKJW (1931), GKP, GKI Jatim, GMIM (1934), GKE, GPM, GKKB
(1935), BNKP (1936), GBKP dan GKPB (1941). Tetapi adapula gereja yang berdiri
sendiri sebelum tahun 1930, yaitu Gereja Gerekan Pentakosta (1924), Gereja
Kristen Muria Indonesia (1926), Panguan Kristen Batak dan Huria Kristen
Indonesia (1927) (ihromi, editor, 1979:71) usaha kemandirian tersebut di atas
yang dimulai tahun 1930-1941 mengalami masalah dalam bidang tenaga pelayanan dan
kepemimpinan. Hal ini disebabkan karena pada masa zending pembinaan tenaga
pribumi kurang diperhatikan, sehingga pada waktu gereja berdiri sendiri masih
juga bergantun pada kepemimpinan para misonaris. Oleh karena itu dimulailah
pusat-pusat pendidikan para pelayan, baik oleh gereja secara sendiri-sendiri
maupun secara bersama. Dan salah satu usaha bersama gereja Indonesia untuk
pendidikan bagi tenaga pelayanan tersebut ialah didirikanh Sekolah Tinggi
Theologi (Hogere Theologische school) di Jakarta tahun 1934, sekarang Sekolah
Tinggi Theologi Jakarta yang bertempat di Proklamasi. (ibid, Hal. 72).
Kedua,
semangat
nasionalisme juga mempengaruhi jemaat-jemaat Kristen di Indonesia untuk ikut
dalam perjuangan kemerdekaan atau membebaskan diiri dari kolonialisme Belanda,
atau sebagaimana yang dinyatakan oleh Fridolin Ukur: “Sewaktu dimulainya
gerakan kebangsaan itu banyak diantara orang Kristen yang ikut aktif” didalam
perjuangan tersebut. Orang –orang Kristen yang ikut dalam pergerakan kebangsaan
sering mendapat teguran dari para misionaris bahkan ada juga yang dikucilkan
dari gereja. Hal ini menimbulkan ketegangan dan pertentangan didalam gereja,
akibatnya gereja mengalami perpecahan, seperti yang pernah dialami oleh HKBP
pada masa pergerakan kebangsaan. Orang-orang Kristen Batak yang tidak senang
dengan sikap misionaris tersebut lalu memisahkan diri dari HKBP, yaitu: HKI
(1927).
B. Gereja
di Masa Pendudukan Jepang (1942-1945)
Pada waktu terjadi perang dunia ke-2, Jerman
mengadakan invasi ke Belanda maka terjadi pula perubahan yang hebat di
Indonesia. Pihak Belanda menahan semua orang asing warga negara Jerman termasuk
para misionaris Jerman di tahan. Akibatnya gereja-gereja di Indonesia yang
mempergunakan tenaga-tenaga misionaris Jerman dan Swis mulai mengalami pukulan
pertama. Gereja-gereja yang mempergunakan para misionaris Jerman dan Swis
adalah gereja-gereja di Sumatera Utara dan Kalimantan. Tidak lama kemudian
tentara Jepang berhasil menguasai wilayah Indonesia, maka terjadilah perubahan
ke-2. semua warga negara Belanda dan sekutunya (termasuk misionaris) ditawan
loleh pihak Jepang. Gereja di Indonesia pada waktu itu mulai masauk dalam
suasana berikutnya dibawah kekuasaan Jepang. Pemerintah Jepang mulai melarang
berhubungan dengan dunia Barat (Eropa). Kecuali misiobnaris Swis dan Jerman
(Jerman adalah sekutu Jepang waktu itu). Misionaris dari Swis dan Jerman
diizinkan untuk sementara melayani di Indonesia, tetapi kemudian diangkut oleh
Jepang untuk dikembalikan ke tanah air mereka. Namun banyak juga misionaris yang
dibunuh oleh tentara Jepang karena dengan tuduhan bersekutu dengan Belanda dan
ikut dalam kegiatan mata-mata Belanda.
Sebelum Jepang menguasai Indonesia ada Gereja-gereja yang telah
berdiri sendiri, namun ada pula
Gereja/kebanyakan gereja yang masih bergantung pada bantuan misionaris. Sehingga waktu
Jepang berkuasa diIndonesia maka gereja
yang masih bergantung padabantuan Zending atau misionaris mengalami kesulitan. Dalam keadaan ini Gereja dipaksa untuk
memikul seluruh tanggung jawab termasuk
tanggung jawab pembiayaan. Bila sebelumnya para pelayan Gereja mendapat gaji dari khas sentral yang dibantu oleh pihak Zending, maka didalam
proses periode ini hal ini tersebut
tidak dilaksanakan. Melalui tiap-tiap
jemaat yang mengusahakan keuangannya sendiri dan membiayai para pelayan tanpa bantuan dari luar, yaitu
dari para misionari Eropa. Dalam situasi ini, pada suatu sisi gereja menghadapi
keprihatinan tetapi pada sisi lain
pereistiwa ini telah membantu gereja untuk bertumbuh secara dewasa. Dalam situasi ini nyatalah bahwa Yesus
Kristus Raja gereja tetap memerintah Gereja-Nya.
Selain kondisi diatas, pemerintah Jepang juga
menyita harta memiliki gereja dan
dijadikan menjadi miliki Negara. Harta
milik Gereja seperti : sekolah-sekolah, rumah sakit, bahkan gedung gerejapun
ada yang disita, ini disebabkan karena pada waktu itu sebagaian besar harta
miliki gereja itu belum sempat dialihkan
ke status hukum untuk menjadi miliki Gereja,
sehingga berdasarkan surat-surat
resmi harta miliki Gereja masih atas nama badan zending. Kenyataan tersebut
menjadi alasan pihak Jepang menyitanya, karena dianggap milik asing. Peristiwa ini juga menjadi pelajaran Sejarah bagi
kita. Setelah Jepang kalah, maka semua
gedung gereja yang disita oleh Jepang
berlangsung diambil Alih oleh
pemerintah Republik Indonesia, namun
proses pengembalian kepada gereja oleh pemerintahpun mengalami
waktu yang panjang, malah sampai dengan sekarang ini masih ada gedung-gedung sekolah ataupun rumah-rumah
sakit sakit yang belum dapat dikembalikan kepada gereja (Ibid,hlm.76). tekanan
lain yang pernah dilakukan Jepang kepada
Gereja waktu itu adalah larangan beribadah, hal ini dapat diatasi setelah
datangnya pendeta-pendeta dari gereja Kristen Jepang ( Keyodan). Misalnya
dijawa Barat, berkat campur tangan pendeta tentara,kolonel Nomachi, Gereja
mendapat surat dari pemerintah sehingga memungkinkan Gereja Kristen Pasundan (
GKP) dapat bergerak lagi tanpa ganguan dari pihak masyarakat maupun dari pihak
pemerintah Jepang. Jadi kehadiran pendeta-pendeta Gereja Kristen Jepang (
Kiyadon) banyak sekali membantu kehidupan gereja-gereja di Indonesia selama
masa pendukung Jepang. Pendeta-pendeta tersebut
menjadi perantara antara gereja dengan pihak pemerintah Jepang.
Pekabaran Injil pada waktu dilarang, yang
diperbolehkan adalah hanyalah ibadat hari minggu dan katekisasi bagi para
pemuda Kristen. Setiap pendeta atau pejabat
gereja harus membuat laporan kekantor di masing masing propinsi tentang
pekerjaan atau kemana mereka pergi . namun
gereja tetap melaksanakan
pekabaran Injil . pada masa it pekabaran Injil dilakukan oleh setiap
warga gereja dan tidak bergantung kepada pejabat gereja yang sedikit
banyak dibatasiruang gerak mereka. Disini kita juga mendapat
pelajaran Sejarah ketika pemimpin
dibatsi maka warga negara terlibat dalam kegiatan misi gereja.
Pergumulan teologis yang sangat berat yang dihadapi
gereja pada pendukung Jepang adalah adanya pemaksaan agar semua orang
dalam setiap upacara harus terlebih
dahulu menghadap kesebelah Timur matahari terbit,
lalu tunduk meyembah kaisar Jepang. Peraturan ini mau dikenakan juga
dalam setiap permulaan kebaktian dirumah gereja. Dalam hal ini gereja-gereja
menolak sehingga menimbulkan ketegangan. Akhirnya berkat campur tangan para
pendeta Jepang peraturan tersebut tidak dikenakan dalam kebaktian-kebaktian
dinegara, tetapi dalam upacara-upacara
umum hal tersebut tetap dilaksanakan. Pengalaman pahit gereja dalam pendukung jepang membawa gereja pada
kedewasaan. Gereja menjadi dewasa melalui penderitaan. Dikatakan demikian
karena tantangan pada masa pendukung Jepang Justru tidakmembuat gereja hilang atau
melemahkan gereja tetapi justru sebaliknya gereja menjadi sadar akan tugas dankewajibannya yaitu lebih
berani memberitakan Injil dan lebih mampu membiayai seluruh pembiyaannya yaitu
lebih berani memberitakan Injil dan lebih mampu membiyai seluruh pembiyaan
Gereja.
C.
Gereja
di masa perang Kemerdekaan RI (
1945-1950)
Pengalaman dan kehidupan gereja di masa pendudukan
Jepang sangat menetukan dan mempengaruhi jalannya sejarah gereja-gereja di
Indonesia dalam periode sesudahnya. Pada
waktu Jepang menyerah kepada sekutu pada tanggal 14 Maret 1945 maka berakhirlah
penindasan dan penjajahan Jepang atas Indonesia.
Bersmaan dengan itu usaha dan
semangat bangsa Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia dan
tanah air sudah mencapai taraf kematangannya, yang berpuncak dengan Proklamasi
kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun datangnya tentara Sekutu yang
menggantikan Jepang, kemudian disusul dengan kembalinya Belanda untuk menjajah
lagi bangsa Indonesia, telah mengakibatkan bentrok fisik yang berkembang
menjadi Perang Kemerdekaan.
Dalam masa pendudukan Jepang
Gereja-gereja Indonesia yang telah cukup matang dipersiapkan di masa pendudukan
Jepang sepenuhnya sadar bahwa perjuangan untuk memperioleh kemerdekaan bangsa
itu adalah tanggung jawab dan tugas seluruh rakyat Indonesia. Dan orang Kristen
sebagai bagian integral dari bangsa ini
sepenuhnya ikut pula bertanggung jawab. Sejak semula, ketika
diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia, orang Kristen sepenuhnya sudah
terlibat dalam perjuangan rakyat ( Ihromi dan Wahono, 1979 :79)
D.
Gereja
yang bertumbuh/ tinggal landas ( 1950-kini)
Alasan perhitungan pertumbuhan Gereja Indonesia oleh
para ahli sejarah Gereja dimulai sejak tahun 1950, karena sejak tahun itu
terjadilah beberapa hal berikut ini yang nanti menjadi ukuran pertumbuhan
tersebut. Peristiwa-peristiwa itu, seperti:
Ø
Pembentukan
Dewan Gereja-gereja di Indonesia. Dewan Gereja-gereja di Indonesia didirikan
pada tanggal 25 Mei 1950, bertepatan dengan perayaan Hari Raya Pentakosta.
Anggota DGI pada waktu itu berjumlah 29 denominasi, dan dalam perkembangan
selanjutnya Gereja-gereja aliran Pentakosta pun menjadi anggota DGI atau
sekarang PGI
Ø
Peristiwa-peristiwa
yang terjadi di Indonesia. Ada peristiwa yang berdampak pada pertambahan
anggota gereja tetapi ada juga peristiwa-peristiwa yang berdampak pada
berkurangnya anggota Gereja.
Peristiwa-peritiwa
yang dimaksud, yaitu:
Peritiwa Gerombolan DI-TII (1950-1962) beberapa
Gereja di wilayah seperti Jawa Barat, Sulawesi dan Kalimantan Selatan.
Peristiwa ini mempengaruhi merosotnya atau berkurangnya Gereja di
wilayah-wilayah yang dikuasai DI-TII, di Toraja sekitar 70.000 orang Kristen
mengalami terror gerombolan bersenjata, termasuk paksaan untuk beralih agama.
Pengembalian wilayah Irian Jaya ke wilayah kekuasaan
Republik Indonesia. Peristiwa ini juga pada akhirnya memberi peluang untuk
perkembangan Gereja secara besar-besaran di Irian Jaya. Karena sebelum
penyerahan, usaha menuju kedewasaan Gereja di Irian Jaya oleh zending berjalan cukup lamban tetapi ketika Irian
Jaya menjadi bagian dari wilayah Indonesia maka DGI melalui bantuan
gereja-gereja di Indonesia sangat berperan dengan baik sehingga gereja-gereja
di Irian Jaya sangat berkembang pesat. Sekedar perbandingan, jumlah orang
Kristen di Irian sebelum penyerahan ke wilayah Indonesia sebanyak 130.000 orang
(thn. 1963, akan tetapi setelah Irian masuk wilayah Indonesia, jumlah orang
Kristen bertambah menjadi 360.000 (statistic thn. 1974)
Peristiwa Gerakan 30 September 1965. Gagalnya usaha
Komunis dan terjadinya banyak korban, singkatnya situasi sedang kritis. Dalam
situasi kritis ini orang tertarik kepada Gereja karena kesaksian Gereja yang
baik, sikap gereja yang tidak memihak, mengutuk dan tidak pandang bulu, usaha
Gereja membela mereka yang tidak bersalah serta bantuan kasih tanpa memandang
golongan dan agama. Semua hal ini mempengaruhi orang menjadi Kristen. Tetapi
secara tegas dikatakan disini bahwa bila dilihat secara keseluruhan maka factor
G.30 S itu bukanlah factor yang sangat menentukan pertumbuhan Gereja.
Anjuran pemerintah agar rakyat memilih agama yang
diakui Pemerintah. Setelah gagalnya G.30 S, pemerintah menganjurkan kepada
rakyat Indonesia agar memilih salah satu agama yang di akui Negara. Anjuran ini
juga mempengaruhi orang untuk memilih agama sesuai dengan hati nuraninya. Selain
itu pertumbuhan Gereja sejak Indonesia sejak tahun 1950 s.d masa kini juga
harus dilihat dari perjumpaan gereja Indonesia dengan pergumulan politik, dalam
pergerakan oikumenikal, dan sikap gereja di tengah masyarakat yang menganut
agama lain. Ini penting disinggung karena gereja Indonesia yang bertumbuh
adalah Gereja Indonesia yang akan berinteraksi dengan banyak pergumulan di
Indonesia. (Ihromi, 1979 :87-91)
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
SEJARAH GEREJA DI
INDONESIA SEJAK Thn. 1930-Kini. Paham nasionalisme Ialah gereja yang memiliki
semangat yang dikobarkan untuk membebaskan diri dari jajahan. Dan Gereja-gereja yang mempergunakan para misionaris
Jerman dan Swis adalah gereja-gereja di Sumatera Utara dan Kalimantan. Tidak
lama kemudian tentara Jepang berhasil menguasai wilayah Indonesia, maka
terjadilah perubahan ke-2. Dan Bersmaan dengan itu usaha
dan semangat bangsa Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia
dan tanah air sudah mencapai taraf kematangannya, yang berpuncak dengan
Proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun datangnya tentara
Sekutu yang menggantikan Jepang, kemudian disusul dengan kembalinya Belanda
untuk menjajah lagi bangsa Indonesia, telah mengakibatkan bentrok fisik yang
berkembang menjadi Perang Kemerdekaan.
Dalam masa pendudukan Jepang
Gereja-gereja Indonesia yang telah cukup matang dipersiapkan di masa pendudukan
Jepang sepenuhnya sadar bahwa perjuangan untuk memperioleh kemerdekaan bangsa
itu adalah tanggung jawab dan tugas seluruh rakyat Indonesia. Dan orang Kristen
sebagai bagian integral dari bangsa ini
sepenuhnya ikut pula bertanggung jawab. Sejak semula, ketika
diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia, orang Kristen sepenuhnya sudah terlibat
dalam perjuangan rakyat.
B. Saran
Penulis
makalah ini ialah harus dapat memahami situasi dan kondisi yang ada. Dalam
makalah ini penulis membahas tentang sejarah GSI 1930-kini. Dalam hal ini
penulis dalam membuat makalah ini banyak kesalahan dan sangat membutuhkan saran
dan dukungan serta masukan dari setiap pembacaa yang ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar